Langsung ke konten utama

Cerita Dewasa Bapak Mertua Menjadi Pemuas Seksku

Cerita Dewasa Bapak Mertua Menjadi Pemuas Seksku

Hallo guys, ini ada sebuah cerita dewasa pengalaman dari seorang narasumber yang sangat ingin ceritanya ini di publikasikan agar menjadi sebuah kenangan yang tidak terlupakan oleh dirinya dan tetap di kenang oleh semua orang yang suka seks. Sebut saja namanya novita dia menikah ketika dirinya telah menginjak usia 28. Sedangkan sekarang dirinya telah menginjak usia kepala tiga, baru satu tahun lebih saja menikah dirinya telah di karunia seorang anak laki-laki. Suaminya berusia lebih tua dari dirinya satu tahun saja, untuk masalah keluarga mereka tergolong keluarga yang sangat bahagia.

Dalam pernikahan mereka yang sekarang tergolong sudah telat, karena kami menikah di usia yang sudah hampir menginjak umur kepala bercabang tiga. Ketika diriku telah melewati 40 hari setelah kelahiran bayi pertama kami, suamiku masih takut untuk melakukan hubungan badan denganku, karena dia takut menyakiti lobang memekku yang baru saja mengeluarkan anak darinya. Karena pada saat proses melahirkan dirinya mendampigi diriku agar dia tahu bagaimana susahnya melahirkan .. hehehe .. ketika sudah selesai melahirkan dirinya juga melihat aku sering kewalahan dan sangat sibuk menjaga sikecil tanpa mengenal waktu. Karena si buah hati kami sering terbangun pada malam hari dan pada saat itu juga saya memberikan asi atau susu khusus untuk dirinya agar tertidur kembali.

Bapak Mertua Menjadi Pemuas Seksku


Sesaat suamiku makin repot saja di kantor, maklum ia kerja dalam suatu kantor Bank Pemerintah dibagian Tehnologi, jadi pulangnya seringkali terlambat. Kondisi ini berjalan dari waktu ke waktu, sampai satu waktu berlangsung perihal baru yang memberi warna kehidupan kami, terutamanya kehidupan pribadiku sendiri.

Saat itu kami mendapatkan berita jika bapak mertuaku yang ada di Amerika punya maksud hadir ke tempat kami. Memang sampai kini ke-2 mertuaku tinggal di Amerika dengan anak wanita mereka yang menikah dengan orang sana. Ia hadir kesempatan ini ke Indonesia sendiri untuk mengakhiri suatu masalah. Ibu mertua tidak dapat turut sebab tuturnya kakinya sakit.

Saat sampai waktu kehadirannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari ayahnya. Suamiku langsung berteriak senang saat temukan figur seseorang pria yang tengah duduk sendiri di ruangan nantikan. Orang itu langsung berdiri serta mendekati kami. Dia lantas berpelukan dengan suamiku. Sama-sama melepas rindu. Saya memerhatikan mereka.

Bapak mertuaku masih tetap terlihat muda diumurnya mendekati akhir 50-an, walau kulihat ada banyak helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tetap tegap serta berotot. Keliatannya dia belum pernah tinggalkan kesukaannya berolah raga sejak dahulu. Beliau datang dari belahan Indonesia Timur serta sebelum pensiun bapak mertua ialah seseorang perwira angkatan darat.
“Hei nak Novi. Apakah khabar…!”, sapa bapak mertua padaku saat tuntas berpelukan dengan suamiku.
“Ayah, apa kabarnya? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana kondisi Ibu di Amerika..?” balasku.
“Oh…Ibu baik-baik saja. Beliau tidak dapat turut, sebab kakinya cukup sakit, mungkin keseleo….”
“Ayo kita ke rumah”, kata suamiku lalu.

Semenjak terdapatnya bapak di dalam rumah, ada pergantian yang cukuplah bermakna dalam kehidupan kami. Saat ini situasi di dalam rumah lebih hangat, penuh canda serta gelak tawa. Bapak mertuaku orangnya memang pintar membawa diri, pintar ambil hati orang. Karenanya ada bapak mertua, suamiku bertambah kerasan di dalam rumah. Bercakap bersama dengan, berjalan-jalan bersamanya.

Namun pada hari-hari spesifik, tetap harus pekerjaan kantornya mengambil alih saatnya sampai malam, hingga ia baru sampai kerumah diatas jam 10 malam. Perihal ini umumnya pada hari-hari Senin tiap-tiap minggu. Sampai terjadi momen ini di hari Senin ke-3 semenjak kehadiran bapak mertua dari Amerika.
Sore itu saya habis senam seperti umumnya. Memang semenjak satu bulan sesudah melahirkan, saya mulai giat kembali bersenam kembali, sebab memang sebelum hamil saya termasuk juga salah seseorang yang sangat giat lakukan senam serta itu umumnya kulakukan pada sore hari. Sesudah terasa cukuplah kuat kembali, saat ini saya mulai bersenam kembali, selain untuk melemaskan badan, pun kuharapkan tubuhku dapat cepat kembali pada bentuk sebelumnya yang langsing, sebab memang postur tubuhku termasuk juga tinggi kurus namun padat.

Sesudah mandi saya langsung makan dan meneteki si kecil di kamar. Mungkin sebab tubuh berasa capek serta pegal setelah senam, saya jadi mengantuk serta sesudah si kecil kenyang serta tidur, saya menidurkan si kecil di box tempat tidurnya. Lalu saya berbaring dalam tempat tidur. Karena sangat sangatlah mengantuk, tiada berasa saya langsung tertidur. Bahkan juga saya juga lupa menutup pintu kamar.

serasa sedang mimpi, saya rasakan tubuhku demikian nyaman. Perasaan capek serta pegal-pegal barusan seperti berangsur hilang… Bahkan juga saya rasakan tubuhku bereaksi aneh. Perasaan nyaman dikit demi sedikit menjadi suatu yang membuatku melayang. Saya seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menimpa beberapa bagian sensitif di tubuhku.

Tiada sadar saya menggeliat rasakan semuanya sekalian melenguh perlahan-lahan. Dalam tidurku, saya punya mimpi suamiku tengah membelai-belai tubuhku serta kerena memang sudah lumayan lama kami tidak terkait tubuh, semenjak kandunganku berusia 8 bulan, yang bermakna sudah ada hampir 3 bulan lamanya, jadi berasa suamiku begitu agresif menelusuri beberapa bagian peka dari pojok tubuhku.

Tidak diduga saya sadar dari tidurku… tetapi sepertinya mimpiku masih tetap selalu bersambung. Justru belaian, sentuhan dan remasan suamiku ke tubuhku semakin berasa riil. Lalu saya menduga ini tindakan suamiku yang sudah kembali dari kantor. Saat saya buka mataku, tampak sinar jelas masih tetap memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang bermakna hari masih tetap sore. Lagian ini kan hari Senin, semestinya ia baru pulang cukup malam, jadi siapa ini yang tengah mencumbuku…

Saya selekasnya terjaga serta buka mataku lebar-lebar. Nyaris saya menjerit sekuat tenaga demikian lihat orang yang tengah menekuni tubuhku. Ternyata… ia ialah mertuaku sendiri. Lihat saya terjaga, mertuaku sekalian tersenyum, selalu saja meneruskan kegiatannya menciumi betisku. Sesaat dasterku telah terangkat tinggi-tinggi sampai menunjukkan semua pahaku yang putih mulus.
“Yah…!! Stop….jangan…. Yaaahhhh…!!?” jeritku dengan nada ketahan sebab takut terdengar oleh Si Inah pembantuku.
“Nov, maafkan Bapak…. Kamu janganlah geram semacam itu dong, sayang….!!” Dia justru berkata semacam itu, bukannya malu didamprat olehku.

“Ayah tidak bisa demikian, cepat keluar, saya mohon….!!”, pintaku menghiba, sebab kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sekalian tangannya tidak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku. Saya coba menggeliat bangun serta cepat-cepat turunkan daster untuk menutupi pahaku serta beringsut-ingsut menjauhinya serta minim ke ujung ranjang. Namun mertuaku semakin menekan maju menghampiriku serta duduk persis di sampingku. Tubuhnya minim kepadaku. Saya makin ketakutan.
“Nov… Kamu tidak kasihan lihat Bapak semacam ini? Ayolah, Bapak kan telah lama merindukan untuk dapat nikmati tubuh Novi yang langsing padat ini….!!!!”, desaknya.
“Jangan bicara demikian. Ingat Yah… saya kan menantumu…. istri Toni anakmu?”, jawabku coba mengetahuinya.
“Jangan menyebut-nyebut si Toni sekarang ini, Bapak tahu Toni belum juga menggauli nak Novi, semenjak nak Novi habis melahirkan… Betul-betul keterlaluan tu anak….!!, sambungnya.
Rupanya entahlah lewat cara bagaimana ia dapat memancing jalinan kita suami istri dari Toni. Ooooh…. betul-betul bodoh si Toni, batinku, tidak tahu tingkah laku Bapaknya.

Mertuaku sekalian selalu mendesakku berkata jika dia sudah terkait dengan beberapa wanita lainnya tidak hanya ibu mertua serta ia tidak sempat memperoleh wanita yang memiliki badan yang semenarik seperti tubuhku ini. Saya 1/2 tidak yakin dengar omongannya. Dia cuma coba merayuku dengan rayuan murahan serta memandang saya akan terasa tersanjung.

Saya coba menghindar… tetapi telah tidak lagi ada ruangan gerak bagiku di pojok tempat tidur. Saat kutatap mukanya, saya lihat mimik mukanya yang kelihatannya semakin hitam sebab sudah dipenuhi nafsu birahi. Saya mulai berfikir bagaimana triknya untuk turunkan keinginan birahi mertuaku yang terlihat telah menggelora. Lihat triknya, saya sadar mertuaku akan melakukan perbuatan apapun supaya tujuannya kesampaian.
Lalu terbersit dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, hingga nafsunya dapat tersalurkan tak perlu memperkosa saya. Pada akhirnya dengan berhati-hati kutawarkan hal tersebut padanya.
“Yahh… agar Novi mengocok Bapak saja ya… sebab Novi tidak mau bapak menyetubuhi Novi… Gimana…?”
Mertuaku diam serta terlihat berfikir sesaat. Raut mukanya terlihat dikit sedih akan tetapi bercampur dikit lega sebab saya masih tetap ingin bernegosiasi.

“Baiklah..”, kata mertuaku seolah tidak miliki alternatif lain sebab saya ngotot tidak akan memberi apakah yang dimintanya.
Mungkin berikut kesalahanku. Saya sangat meyakini jika jalan keluar ini akan menahan keganasannya. Kupikir umumnya lelaki jika telah tersalurkan juga bakal surut nafsunya untuk lalu tertidur. Saya lantas menarik celana pendeknya.
Ugh! Sialan, nyatanya ia tidak menggunakan celana dalam kembali. Demikian celananya kutarik, batangnya langsung melompat berdiri seperti ada pernya. Saya begitu kaget serta terkesima lihat batang kemaluan mertuaku itu….
Oooohhhh…… betul-betul panjang serta besar. Tambah lebih besar dibanding miliki Toni suamiku. Manakah hitam kembali, dengan kepalanya yang mengkilap bundar besar begitu tegang berdiri dengan gagah perkasa, walau sebenarnya usianya tidak muda kembali.

Tanganku berjalan canggung. Bagaimananpun baru kesempatan ini saya menggenggam kontol orang tidak hanya punya suamiku, manakah besar sekali kembali hingga hampir tidak dapat muat dalam tanganku. Perlahan tanganku memegang batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya sambil menyebutkan namaku.
“Ooooohhh…..sssshhhh…..Noviii…eee..eeena aak. .. betulll..!!!” Saya mendongak melirik padanya. Terlihat muka mertuaku meringis meredam remasan lembut tanganku pada batangnya.

Saya mulai berjalan naik turun telusuri batangnya yang besar panjang serta teramat keras itu. Sesekali ujung telunjukku menyeka moncongnya yang telah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh rasakan nyeri karena usapanku. Saya tahu ia sangatlah bernafsu sekali serta mungkin dalam seringkali kocokan dia akan menyemburkan air maninya. Sesaat kembali pasti akan selekasnya tuntas telah, pikirku mulai tenang.

Dua menit, tiga… sampai lima menit selanjutnya mertuaku masih tetap bertahan walau kocokanku telah makin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi mengarah dadaku. Saya kembali memperingatkan supaya janganlah melakukan perbuatan beberapa macam.
“Nggak apa-apa …..agar cepet keluar..”, kata mertuaku memberikan fakta.

Saya tidak menyetujui dan tidak menghalaunya sebab kupikir ada benarnya juga. Agar cepat tuntas, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya kembali. Dia dengan lembut serta berhati-hati mulai meremas-remas ke-2 payudara dibalik dasterku. Saya memang tidak kenakan kutang kerena habis menyusui si kecil barusan. Jadi remasan tangan mertua langsung berasa sebab kain daster itu begitu tipis.
Menjadi wanita normal, saya rasakan kesenangan pun atas remasan ini. Ditambah lagi tanganku masih tetap memegang batangnya dengan erat, sekurang-kurangnya saya mulai dipengaruhi oleh kondisi ini. Walau dalam hati saya telah berkemauan untuk meredam diri serta lakukan semuanya untuk kebaikan diriku juga. Sebab tentu saja sesudah ini tuntas ia akan tidak melakukan perbuatan lebih jauh kembali padaku.
“Novi sayang.., membuka ya? Dikit saja..”, pinta mertuaku lalu.
“Jangan Yah. Barusan kan telah janji tidak akan beberapa macam..”, ujarku memperingatkan.
“Sedikit saja. Ya?” desaknya kembali sambil menggeser tali daster dari pundakku hingga sisi atas tubuhku terbuka. Saya jadi bingung serta serba salah. Sesaat sisi dada sampai ke pinggang telah telanjang. Nafas mertuaku makin mengincar kencang melihatku 1/2 telanjang.

“Oh.., Novii kamu betul-betul cantik sekali….!!!”, pujinya sekalian memilin-milin dengan berhati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Saya terperangah. Keadaan telah mulai ke arah pada perihal yang tidak kuinginkan.

Saya mesti lakukan tindakan cepat. Tiada fikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke mulutku serta mengulumnya sedapat mungkin supaya dia secepatnya tuntas serta tidak bersambung lebih jauh kembali. Saya tidak memedulikan tindakan mertuaku pada tubuhku. Saya biarlah tangannya dengan bebas menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan juga saat kurasakan tangannya mulai mengelus-elus sisi kemaluanku juga saya tidak berupaya mencegahnya. Saya lebih berkonsentrasi untuk selekasnya mengakhiri semuanya secepat-cepatnya. Jilatan serta kulumanku pada batang kontolnya makin mengganas hingga mertuaku terengah-engah rasakan kelihaian permainan mulutku.

Saya lebih semangat serta makin meyakini dengan potensiku untuk membuat selekasnya tuntas. Keyakinanku ini nyatanya menyebabkan fatal bagiku. Sudah ada hampir 1/2 jam, saya belumlah lihat pertanda apa pun dari mertuaku. Saya jadi ingin tahu, sekaligus juga terasa ditantang. Suamiku juga yang telah terlatih denganku, jika telah kukeluarkan potensi semacam ini tentu takkan tahan lama. Tetapi mengapa dengan mertuaku ini? Apakah dia menggunakan obat kuat?

Karena sangat ingin tahunya, saya jadi kurang memerhatikan tindakan mertuaku padaku. Entahlah semenjak kapan daster tidurku telah lepas dari tubuhku. Saya baru sadar saat mertuaku berupaya menarik celana dalamku serta itu juga terlambat!

Demikian melihat ke bawah, celana itu barusan lepas dari ujung kakiku. Saya telah telanjang bundar! Ya ampun, mengapa kubiarkan semuanya berlangsung. Saya menyesal mengapa mengawalinya. Nyatanya peristiwanya tidak seperti yang kurencanakan. Saya sangat sombong dengan keyakinanku. Sekarang semua telah terlambat. Amburadul semua! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Keadaan makin tidak teratasi. Kembali lagi saya kecurian.

Mertuaku dengan lihainya serta tiada kusadari telah mengubah tubuhku sampai bersimpangan dengan tempat tubuhnya. Kepalaku ada di bawahnya sesaat kepalanya ada di bawahku. Kami telah ada dalam tempat enam sembilan! Selang beberapa saat kurasakan sentuhan lembut di sekitar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi serta tiada sadar saya menjerit lirih.

Senang tidak senang, harus, kurasakan kesenangan cumbuan mertuaku di seputar itu. Akh mengagumkan! Saya menjerit dalam hati sekalian menyesali diri. Saya geram pada diriku sendiri, terpenting pada tubuhku sendiri yang telah tidak ingin ikuti perintah pikiran sehatku.

Tubuhku meliuk-liuk ikuti irama permainan lidah mertuaku. Ke-2 pahaku mengempit kepalanya seakan ingin membenamkan muka itu ke selangkanganku. Kuakui dia memang pintar membuat birahiku mencapai puncak. Sekarang saya telah lupa dengan strategi sebelumnya. Saya telah terikut arus. Saya justru ingin menyeimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan gesit. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh serta kenyal. Maklum, masih tetap menyusui.

Sesaat kontol itu berjalan diantara buah dadaku, mulutku tidak sempat terlepas mengulumnya. Tiada kusadari kami sama-sama mencumbu sisi penting semasing saat lima belas menit. Saya makin meyakini jika mertuaku menggunakan obat kuat. Dia benar-benar belumlah menunjukkan pertanda akan keluar, sesaat saya telah mulai rasakan desiran-desiran kuat berjalan cepat mengarah pusat kewanitaanku. Jilatan serta hisapan mulut mertuaku betul-betul membuatku tidak berkapasitas.

Saya makin tidak teratasi. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, semua saluran darah terasanya berhenti serta saya tidak dapat untuk meredam tekanan kuat gelombang lahar panas yang mengalir demikian cepat.
“Oooohhhhh…….aaaa….aaaaa……aaauugghhh hhhh hh..!!!!!” saya menjerit lirih demikian saluran itu menggedor pertahananku. Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tidak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat rasakan kesenangan ini. Saya terkulai lemas sesaat batang kontol mertuaku masih tetap ada dalam genggamanku serta masih tetap mengacung dengan gagahnya, bahkan juga berasa semakin kencang saja.

Saya merintih sebab tidak miliki alternatif lain. Telah kepalang basah. Saya tidak memiliki cukuplah tenaga kembali untuk menjaga kehormatanku, saya cuma tergolek lemah tidak berkapasitas waktu mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut dia menyeka wajahku serta berkata begitu cantiknya saya saat ini.
“Noviii…..kau benar-benar cantik. Tubuhmu indah serta langsing tetapi padat berisi.., mmpphh..!!!”, tuturnya sekalian menciumi bibirku, coba buka bibirku dengan lidahnya.

Saya seolah kagum oleh pujiannya. Cumbu rayunya demikian menggairahkanku. Saya diperlakukan seperti satu porselen yang gampang pecah. Demikian lembut serta berhati-hati. Hatiku entahlah kenapa makin membumbung tinggi dengar semua kekagumannya pada tubuhku.

Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah serta berisi. Payudaraku yang membusung penuh serta menggantung indah di dada. Permukaan cukup menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat menunjukkan ekspresi kekaguman yang tidak terhingga waktu matanya memandang nanar mengarah lembah bukit di seputar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha sisi dalam. Saya mendesis serta tiada sadar buka ke-2 kakiku yang semula merapat.

Mertuaku menyesuaikan diri diantara ke-2 kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, dari mulai atas sampai ke bawah. Turun naik. Saya terasa nyeri bercampur geli serta nikmat. Cairan yang masih tetap tersisa di seputar itu membuat gesekannya makin lancar sebab licin.

Saya terengah-engah merasakan. Keliatannya dia menyengaja lakukan itu. Ditambah lagi waktu moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang telah menegang. Mertuaku memandang tajam lihat reaksiku. Saya balas memandang seakan memintanya untuk selekasnya masuk diriku secepat-cepatnya.

Ia paham persis apakah yang kurasakan waktu itu. Akan tetapi keliatannya dia ingin melihatku menanggung derita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang saya telah tidak tahan untuk selekasnya nikmati batang kontolnya dalam memekku. Saya ingin selekasnya membuat `KO’. Selalu jelas saya begitu ingin tahu dengan keperkasaannya. Kuingin tunjukkan jika saya dapat membuat secepatnya sampai puncak kesenangan.
“Yah..?” panggilku menghiba.
“Apa sayang…”, jawabnya sambil tersenyum melihatku tersiksa.
“Cepetan..yaaahhhhh…….!!!”
“Sabar sayang. Kamu ingin Bapak melakukan perbuatan apa…….?” tanyanya pura-pura tidak memahami.
Saya tidak menjawab. Tentunya saya malu menjelaskannya dengan terbuka apakah keinginanku waktu itu. Akan tetapi mertuaku kelihatannya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Dia menyengaja mengulur-ulur dengan cuma menggesek-gesekan kontolnya. Sesaat saya betul-betul telah tidak tahan kembali mengekang birahiku.
“Novii….iiii… iiiingiiinnnn aaa…aaayahhhh….se….se.. seeegeeeraaaa ma… masukin..!!!”, kataku terbata-bata dengan sangat terpaksa.
Saya sebetulnya begitu malu menjelaskan ini. Saya tadi demikian ngotot akan tidak memberi tubuhku kepadanya, sekarang justru minta-minta. Wanita jenis apakah saya ini!?
“Apanya yang dimasukin…….!!”, tanyanya kembali seperti menghina.
“Aaaaaaggggkkkkkhhhhh…..ya…yaaaahhhh. Ja…..ja….Jaaangan siksa Noviiii..!!!”
“Bapak tidak punya maksud menyiksa kamu sayang……!!”
“Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh… Noviii ingin dimasukin kontol bapak ke memek Novi…… uugghhhh..!!!”
Saya kesempatan ini telah tidak malu-malu kembali menjelaskannya dengan vulgar karena sangat tidak tahannya memikul gelombang birahi yang menggelora. Saya terasa seperti wanita jalang yang haus sex. Saya hampir tidak yakin dengar perkataan itu keluar dari bibirku sendiri. Tetapi apakah ingin dikata, memang saya begitu menginginkannya selekasnya.
“Baiklah sayang. Tetapi pelan-pelan ya”, kata mertuaku dengan penuh kemenangan sudah sukses menaklukan diriku.
“Uugghh..”, saya melenguh rasakan tekanan batang kontolnya yang besar itu. Saya menanti lumayan lama pergerakan kontol mertuaku masuk diriku. Terasanya tidak hingga. Tidak hanya besar, kontol mertuaku begitu panjang juga. Saya sampai meredam nafas waktu batangnya berasa mentok di. Rasa-rasanya sampai ke ulu hati. Saya baru bernafas lega saat semua batangnya ambles di.

Narasi Panas – Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Satu, dua serta tiga tusukan mulai berjalan mulus. Makin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat kontol mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Saya menyeimbangi dengan pergerakan pinggulku. Meliuk perlahan-lahan. Turun naik ikuti irama tusukannya.

Pergerakan kami makin lama makin bertambah cepat serta makin bertambah liar. Gerakanku tidak teratur sebab yang terpenting bagiku tusukan itu sampai beberapa bagian sensitif di relung kewanitaanku. Dia paham persis apakah yang kuinginkan.

Dia dapat mengarahkan batangnya dengan pas ke tujuan. Saya seperti ada di awang-awang rasakan kesenangan yang mengagumkan ini. Batang mertuaku menjejal penuh semua isi liangku, tidak ada sedikitpun ruangan yang tersisa sampai gesekan batang itu terasa sangat di semua dinding vaginaku.

“Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!”, saya mendesah, melenguh serta mengeluh rasakan semua kesenangan ini.
Kembali saya mengaku keperkasaan serta kelihaian mertuaku diatas ranjang. Dia demikian hebat, jantan serta entahlah ditambah lagi panggilan yang patut kuberikan kepadanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibanding ayahnya yang bejat ini. Yang tentu saya rasakan kenikmatan tidak terhingga bercinta dengannya walau kusadari tindakan ini begitu terlarang serta akan menyebabkan persoalan besar nanti. Tapi waktu itu saya telah tidak peduli serta takkan menyesali kesenangan yang kualami.

Mertuaku berjalan makin cepat. Kontolnya terus-menerus menyerang beberapa daerah sensitive. Saya meregang tidak dapat meredam desiran-desiran yang mulai banyak yang datang seperti gelombang menggedor pertahananku. Sesaat mertuaku dengan gagahnya masih tetap mengayunkan pinggulnya turun naik, ke kiri serta ke kanan. Eranganku makin keras terdengar bersamaan dengan gelombang dahsyat yang makin mendekati puncaknya.
Lihat reaksiku, mertuaku percepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar serta panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seolah tidak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak mengakibatkan. Kulihat badan mertuaku telah basah bermandikan keringat. Saya juga demikian. Tubuhku yang berkeringat terlihat mengkilat terserang cahaya lampu kamar.

Saya coba mencapai badan mertuaku untuk mendekapnya. Serta disaat-saat gawat, saya sukses memeluknya dengan erat. Kurengkuh semua tubuhnya hingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan benjolan otot-ototnya yang masih tetap keras serta pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sesaat ke-2 tanganku meraih buah pantatnya serta menarik kuat-kuat.
Kurasakan semburan untuk semburan memancar kencang dari dalam diriku. Saya meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang diatas puncak kesenangan yang kualami untuk ke-2 kalinya waktu itu.

“Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee…eeennnaaaakkkkkkkk…!!!”
Cuma itu yang dapat keluar dari mulutku karena sangat dahsyatnya kesenangan yang kualami dengannya.
“Sayang nikmatilah semuanya. Bapak ingin kamu bisa rasakan kenikmatan yang sebenarnya tidak pernah kamu alami….”, bisik bapak dengan mesranya.

“Bapak sayang kepadamu, Bapak cinta padamu…. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak sampai kini..”, sambungnya tidak henti-henti membisikan untaian beberapa kata indah yang terdengar demikian romantis.
Saya mendengarnya dengan perasaan tidak menentu. Mengapa ini datangnya dari lelaki yang bukan seharusnya kusayangi. Kenapa kesenangan ini kualami bersama dengan mertuaku sendiri, tidak dari anaknya sebagai suamiku…????. Tiada berasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terperanjat lihat ini. Dia terlihat demikian cemas melihatku menangis.

“Novi sayang, mengapa menangis?” bisiknya cepat-cepat.
“Maafkan Bapak jika sudah membuat kamu menanggung derita..”, sambungnya sambil memeluk serta mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Saya makin susah rasakan ini. Tapi ini tidak cuma kelirunya. Saya juga berandil besar dalam kekeliruan ini. Saya tidak dapat mempersalahkannya saja. Saya mesti jujur serta adil menyikapinya.
“Bapak tidak salah. Novi yang salah..”, kataku lalu.
“Tidak sayang. Bapak yang salah…”, tuturnya besikeras.
“Kita, Yah. Kita saling salah”, kataku sekaligus juga memintanya tidak untuk memperdebatkan permasalahan ini kembali.

“Terima kasih sayang”, kata mertuaku sambil menciumi muka serta bibirku.
Kurasakan ciumannya di bibirku sukses menghidupkan kembali gairahku. Saya masih tetap ingin tahu dengannya. Sampai sekarang ini mertuaku belum sampai puncaknya. Saya seperti memiliki utang yang belumlah terbayar. Kesempatan ini saya berkemauan keras untuk membuat alami kesenangan seperti apakah yang sudah dia beri kepadaku.

Saya tidak sadar mengapa diriku jadi demikian ketertarikan untuk mengerjakannya dengan sepenuh hati. Biarkanlah berlangsung semacam ini, toh mertuaku akan tidak selama-lamanya ada di sini. Dia mesti pulang ke Amerika. Saya janji pada diriku sendiri, ini adalah yang terakhirnya.

Munculnya pikiran ini membuatku makin bergairah. Ditambah lagi semenjak barusan mertuaku terus menerus menggerakan kontolnya di memekku. Tidak diduga saja saya jadi beringas. Kudorong badan mertuaku sampai terlentang. Saya langsung menindihnya serta menicumi muka, bibir serta sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak seperti tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya.

Kulirik kewajah mertuaku keliatannya suka pada perubahanku ini. Belum dia akan mengatakan suatu, saya langsung berjongkok dengan ke-2 kaki bertopang pada lutut serta semasing ada di samping kiri serta kanan badan mertuaku. Selangkanganku ada persis diatas batangnya.

“Akh sayang!” pekik mertuaku ketahan saat batangnya kubimbing masuk liang memekku. Tubuhku turun perlahan, menelan habis semua batangnya. Setelah itu saya berjalan seperti tengah menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang tengah birahi.

Saya tidak ubahnya seperti pelacur yang tengah memberi kenikmatan pada hidung belang. Tapi saya tidak peduli. Saya selalu berpacu. Pinggulku berjalan naik turun, sekalian sesekali meliuk seperti ular. Pergerakan pinggulku sama seperti vokalis dangdut dengan style ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar serta entahlah style ditambah lagi. Intinya malam itu saya keluarkan semua jurus yang kumiliki serta spesial kupersembahkan pada bapak mertuaku sendiri!
“Ooohh… oohhhh… oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa…..!!!” jerit mertuaku rasakan hebatnya permainanku.

Pinggulku mengaduk-aduk gesit, mengulek liar tiada henti. Tangan mertuaku mencengkeram ke-2 buah dadaku, diremas serta dipilin-pilin, hingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya.
Dia lantas bangun 1/2 duduk. Mukanya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat semua permukaan dadaku yang berlumuran air susuku serta pada akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sekalian meremas-remas mengisap air susuku sebanyak.

Kami berdua sama-sama berlomba-lomba memberikan kenikmatan. Kami tak akan rasakan dinginnya hawa walau kamarku memakai AC. Badan kami bersimbah peluh, membuat badan kami jadi lengket keduanya. Saya bergelut mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya makin cepat bersamaan dengan liukan pinggulku yang tidak kalah cepatnya. Permain kami makin bertambah dahsyat.

Sprei ranjangku telah tidak karuan memiliki bentuk, selimut serta bantal dan guling terlempar berantakan di lantai karena pertarungan kami yang makin bertambah liar serta tidak teratasi. Kurasakan mertuaku mulai menunjukkan pertanda.

Saya makin semangat meningkatkan pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri beberapa vokalis dangdut sekarang ini. Tidak selang beberapa menit lalu, saya juga rasakan tekanan yang sama. Saya tidak ingin terkalahkan kesempatan ini. Kuingin dia juga merasakan. Tekadku makin kuat. Saya selalu meningkatkan sekalian menjerit-jerit histeris. Saya telah tidak peduli suaraku akan terdengar kemana saja. Kesempatan ini saya mesti menang! Upayaku nyatanya tidak sia-sia.

Kurasakan badan mertuaku mulai mengejang-ngejang. Dia mengeluh panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Saya juga mendesah persis kuda betina binal yang tengah birahi.
“Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouugghhhhhh..!!!!” mertuaku berteriak panjang.
Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terikut goncangannya. Saya memeluknya erat-erat supaya jangan pernah terpental oleh goncangannya. Mendadak saya rasakan semburan dahsyat menyirami semua relung vaginaku. Semprotannya demikian kuat serta banyak membanjiri liangku. Akupun rasa-rasanya tidak kuat kembali meredam tekanan dalam diriku. Sekalian mendesakan pinggulku kuat-kuat, saya berteriak panjang waktu sampai puncak kesenangan bersamaan dengan bapak mertuaku.

Badan kami bergulingan diatas ranjang sekalian berpelukan erat. Karena sangat dahsyatnya, badan kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidaklah terlalu tinggi serta permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk hingga kami tidaklah sampai terkilir atau terluka.
“Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik….nikkkk nikmaatthh…. yaaahhhh..!!!!” jeritku tidak tertahankan.
Tulang-tulangku terasanya lolos dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tidak bertenaga terkuras habis dalam pertarungan yang nyatanya menghabiskan waktu lebih dari 2 jam!
Hilang ingatan! Jeritku dalam hati. Tidak pernah rasa-rasanya saya bercinta sampai demikian lamanya. Saya cuma dapat memeluknya nikmati sisa-sisa kenikmatan. Perasaanku tidak diduga terganggu.

Kelihatannya saya dengar suatu di luar pintu kamar, sepertinya si Inah…. Sebab dengar nada ribut-ribut dari kamar, rupanya dia hadir untuk mengintip…. tetapi saya telah sangat capek untuk memperhatikannya serta pada akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari momen di sore hari ini di lalu hari…..

Postingan populer dari blog ini

Cerita Dewasa Menculik Dan Perkosa Pegawai Bank Swasta

Hello guys saya mau menceritakan sebuah cerita seks dimana kami menculik seorang wanita cantik yang bekerja sebagai kepala cabang disalah satu bank yang sangat terkenal, dirinya bernama shella dengan umur 30 tahun. Pada suatu hari dirinya kami culik dan diperkosa secara beramai-ramai dan bergantain atau mungkin dikenal sebagai gangbang yaa, hahaha. Dirinya kami sekap selama 3 hari 3 malam tanpa ada berhenti kami terus memperkosa dirinya setiap jam berselang. Shella adalah cewek idaman semua lelaki apabila melihat bodynya yang sungguh aduhai seperti gitasr spanyol, tubuhnya sangat berisi padat dan montok sekali membuat semua orang yang melihat nya ingin memiliki dirinya. Dengan tinggi tubuh 165 cm serta ukuran bra 36B, membuat penampilannya semakin menggairahkan, ditambah lagi bila dia menggunakan sepatu hak tinggi, rok span diatas lutut dan blous silk yang tipis, membuat semua pria yang menatapnya ingin mencicip tubuhnya. Hampir sehari-hari dia kenakan pakaian semacam itu, sampai b...

Hadiah Ulang Tahun Ngentot Dari Mama

Hallo guys saya mau menceritakan pengalaman saya ketika berulang tahun, kenalkan saya bernama tommy, umur 24 tahun. Aku adalah pria lajang yang berasal dari semarang akan tetapi saya kuliah di jakarta, ketika massa liburan saya pulang ke rumah nenekku. Dan untuk mamaku tinggal berbeda rumah dengan nenekku. Pagi itu saya ke rumah mamahku sebab ditelepon olehnya. Kebetulan waktu itu memang lagi tahunku. Mamahku termasuk juga orang yang cantik, meskipun umurnya telah lebih dari 40 tetapi ia pintar menjaga badan serta mukanya, hingga masih tetap tampak begitu cantik samoai sekarang ini. Waktu sampai di dalam rumah mamahku, ia langsung menyapaku serta memberikan selamat ulang tahun kepadaku. Lalu saya duduk di kursi ruangan tamu. Kebetulan waktu itu kakak serta ayahku tengah di Jakarta serta adikku kuliah di Bandung. Lalu mamahku menghampiriku serta duduk di dekatku. Lantas dengan muka dikit merintih ia mohon maaf jika pada sekarang ini tidak dapat menghadiahkan ulang tahun kepadaku, se...