Pada suatu hari tepatnya saat pendaftaran siswa baru yang merupakan kisah nyata tentang pengalaman seks yang pernah aku alami ketika lagi berdinas di sekolah Sekolah Menengah Pertama Madrasah Ibtidaiyah. Seperti biasanya, aku pergi berangkat kerja di pagi hari, lantaran aku sebagai Wakil Kepala Sekolah diharuskan datang lebih dahulu sebelum yang lainnya datang. Terutama saat memasuki tahun pelajaran baru.
Sesampainya di sekolah, aku bergegas untuk menyiapkan diri untuk melakukan upacara bendera. Setelah upacara bendera selesai dilakukan, semua guru sibuk melakukan aktifitasnya masing-masing terkecuali hanya guru agama ialah Pak Iskandar yang lagi kedatangan tamu dan memberikan laporan kepadaku bahwa ada siswa yang ingin mendaftar di sekolahku. Kemudian aku langsung menerima tamu itu, terlihat seorang ibu berparas wajah mempesona, kulit putih dan juga bodynya yang begitu seksi yang kelihatannya masih berusia 30 tahunan memasuki ruanganku. Langsung terlintas dipikiranku jika dia tergolong sepertinya pandai dalam hubungan seks.
Setelah ibu itu duduk, aku langsung menjelaskan kepadanya bahwa di sekolahku sudah tidak menerima pendaftaran siswa baru, karena waktu pendaftaran sudah ditutup. Akan tetapi ibu itu memaksa supaya anaknya bisa masuk di sekolah ini, dan akhirnya aku merundingkannya terlebih dahulu dengan Kepala Sekolah dan kami menerima anaknya untuk sekolah disini lantaran anak yatim yang tidak memiliki biaya sekolah dan oleh sebab itu, ibu dari siswa yang kami terima berpesan agar aku datang ke rumahnya pada hari Sabtu sekitar jam 7an pagi berhubungan dengan masalah keperluan anaknya untuk sekolah.
Pada besok harinya aku pergi ke rumahnya ibu yang datang ke sekolah kemarin, rumahnya kecil tapi sangat bersih, rumahnya terlihat begitu sunyi dan kemudian aku mengetuk pintunya sambil mengucapkan salam. Namun tidak ada respon dari pemilik rumah, setelah mengetuk pintu rumahnya 5 kali dan akhirnya dibukakan juga pintunya, terlihat sosok ibu yang kelihatannya habis mandi yang mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya dan juga tangan dan kakinya yang putih masih basah.
"Aduhh maaf ya pak" ujar ibu itu sambil mempersilakan aku untuk masuk ke dalam rumahnya. Sungguh tercengang aku melihat pemandangan barusan, ibu itu terlihat sangat seksi dari bentuk badannya yang montok dna kulitnya yang putih rasanya membuat aku semakin tergoda. Lalu pikiran ngawur itu aku buang jauh-jauh, aku duduk di ruang tamu yang menghubungkan seluruh ruang yang ada di rumahnya.
Tidak lama kemudian, muncul lagi ibu itu yang keluar dari dalam kamar dengan rambut yang masih basah, tubuhnya masih belum mengenakan baju dan masih terlilit oleh handuk berwarna putih yang menutupi tubuhnya dari paha hingga ke pangkal dadanya. Dia bersikap santai tidak seperti sebelumnya yang merasa tergesa-gesa dan tersenyum sambil menawarkan minum yang sudah disiapkan. Kemudian dia kembali masuk ke dalam kamar dan terciumlah wangi badannya sehabis mandi dan terlihat dengan jelas lekuk tubuh semoknya saat berjalan menuju kamar.
Mataku tidak bisa berhenti memandanginya dan jantungku terasa berdebar begitu hebat, beberapa saat kemudian ibu itu yang bernama Siti keluar dari kamarnya setelah memakai baju dan rambutnya sudah disisir rapi meski masih nampak basah, bagian pinggangnya hingga paha masih ditutupi handuk. Dalam hati aku bertanya kenapa masih menggunakan handuk ya, namun lama kelamaan handuknya semakin lama semakin keatas sehingga terlihat dengan jelas pahanya yang putih mulus dan sepertinya sangat empuk.
Kemudian dia duduk di kursi panjang tepat menghadap ke arahku, pahanya terlihat dengan sangat jelas saat dia duduk dan seakan-akan memang ingin diperlihatkan kepadaku, dadaku semkin berdebar kencang dan pikiranku semakin tidak karuan, namun dia masih santai saja dengan merapikan bajunya lalu mengatakan:
"Maaf pak jika kurang sopan, emmm.. sebelumnya bapak aslinya dari mana ya?" tanyanya yang membuka percakapan.
"Aku asli Padang" sahutku singkat.
"Ohh begitu.. Maaf lagi sebelumnya sudah menikah?" dia kembali bertanya.
"Sudah bu, malah sudah punya anak 1" jawabku.
"Hhhmmm begitu rupanya.. Begini pak, saya kan tidak punya biaya untuk anak saya sekolah, jadi bagaimana ya pak membayarnya dan jadi tidak enak sama bapak dan bapak kepala sekolah" ujarnya sambil sibuk membereskan branya.
Dengan pertanyaannya itu yang membuat aku merasa bingung, ntah harus berbuat apa untuk menjawabnya dan jika tidak dijawab aku merasa tidak enak.
"Baik bu, begini saja kan kemarin kita sudah membahasnya dengan kepala sekolah, kami semua sudah sepakat untuk membantu ibu untuk tidak perlu memikirkan soal biaya lantaran putra ibu kan anak yatim, betulkan bu?" tanyaku.
"Iya betul pak, sudah sejak anak saya masih SD ditinggal sama bapaknya, terpaksa saya harus bekerja untuk kebutuhan pokok sehari-hari saya dan anak saya" balasnya menjelaskan sambil menggeser posisi duduknya yang membuat kedua pangkal pahanya semakin jelas terlihat.
Aku berpura-pura tidak melihatnya meskipun rasanya darahku mengalir begitu deras dan nafasku semakin tidak beraturan menahannya.
"Jadi begitu, memangnya ibu kerja dimana?" tanyaku yang berusaha menenangkan diri.
"Saya kerja di Jakarta pak jadi karyawan pabrik, lumayan pak daripada tidak ada penghasilan, oh iya panggil saya Nina saja pak, kan saya belum terlihat seperti ibu-ibu" balasnya sambil tersenyum begitu manisnya.
"Baiklah, aku Faisal" balasku yang membalas senyumnya.
Tiba-tiba saja ia bangun dari tempat duduknya dan mendekat ke arahku yang kemudian membelakangiku dan berkata "Maaf pak, bisa tolong masukkan kancing bra saya, daritadi tidak masuk-masuk".
Aku sama sekali tidak menduga hal ini terjadi, dadaku semakin berdebar kencang lantaran harus bingung harus berbuat apa, dengan sedikit gemetar tanganku meraih punggungnya dan ia mengangkatkan bajunya, terlihatnya pinggangnya yang begitu montok dan putih mulus, punggungnya yang lebar sepertinya sangat empuk membuat jakunku turun naik menelan ludah dan aku berusaha memegang tali branya dan mengaitkan kancingnya yang memang agak susah ditambah nafasku semakin tidak beraturan. Tiba-tiba saja Nina membalikkan badannya dan tersenyum lalu masuk ke dalam kamar.
"Pak, ngobrolnya di dalam sini saja yuk, tidak apa-apa kan tidak ada orang" ajaknya dari dalam kamar.
Aku semakin lama semakin bingung dibuatnya harus melakukan apa, sementara itu darahku semakin mengalir deras, pikiranku semakin kacau dan selangkanganku mulai terasa panas.
Tanpa berpikir panjang kemudian aku menuruti ajakannya, Nina sudah melepaskan handuknya dan mengenakan celana, meskipun sudah tertutup dengan celana, masih tampak jelas pinggulnya yang montok ditatapanku.
"Duduk saja pak" ujarnya yang mempersilahkan.
Rasanya aku seperti hewan peliharaan yang mau saja mengikuti perintahnya yang kemudian duduk di samping tempat tidur. Tanpa diduga, tiba-tiba saja Nina menarik dan memelukku, aku seperti bermimpi yang rasanya dadaku berdebar hebat.
"Pak, saya kan sudah dibantu sama bapak, sekarang giliran saya membayar balas budinya" ujarnya sambil memelukku dan kemudian menciumku dengan ganasnya, aku cuma bisa terdiam tidak tahu harus berbuat apa, ketika aku tersadar Nina sudah telanjang bulat dan terpampang dengan jelas tubuhnya yang seksi tanpa tertutupi sehelai pakaian pun. Aku sebagai manusia biasa merasa bingung dengan situasi seperti ini, aku juga takut ini hanya jebakan saja. Maka aku segera berpamitan, namun Nina mengejarku yang kemudian memelukku dari belakang dan sssseeeerrrrrr.. darahku lagi-lagi mengalir begitu deras saat payudaranya yang begitu empuk menyentuh punggungku.
"Jangan sekarang ya.. eehhhh.." ujarku yang tergesa-gesa memakai sepatu yang kemudian pergi meninggalkan Nina dan dia hanya bisa melongo melihatku pergi.
Sesampainya di sekolah, nafsuku semakin membara dan aku jadi tidak bisa konsentrasi maka segeralah aku ke WC untuk mengocok sambil membayangkan hal yang barusan saja terjadi dan langsung kubuka resleting celanaku dan kukocokkan penisku dengan sabun yang ada disana. Sungguh nikmat sekali saat kubayangkan air maniku keluar dari lubang kemaluannya Nina dan slluurrpp.. ssllluuurrrppp.. muncratlah air maniku di toilet.
Setelah itu, aku segera menemui kepala sekolah, Pak Zulham namanya. Aku menceritakan tentang kejadian barusan yang aku alami kepada beliau, lalu pak Zulham menepuk-nepuk pundakku dan berkata "Syukurlah kamu tidak tergoda dari godaan setan Faisal".
Keesokan harinya aku sedikit bercerita dengan pak Zainal, dia begitu antusias mendengar ceritaku.
"Apakah kamu tidak benar-benar menginginkannya, ayah? Lalu, di mana rumahmu dan bukan siapa-siapa?" Pak Zainal bertanya dengan detail.
"Tidak, Tuan, saya masih sehat, mengapa demikian, Tuan?" Saya bertanya di belakang punggungnya, dan saya terkejut.
"Oke, hanya untuk bertanya," jawabnya, tersenyum.
Tepat sebelum istirahat biasanya disebut kebutuhan dalam hal kegiatan dalam periode bimbingan akademik atau MOS. Saya ingin menemukan Tuan Zainal, tetapi ia tidak memukul saya, kemudian penjaga sekolah mengatakan bahwa Tuan Zainal diizinkan pergi ke kota berikutnya. Itu membuat saya semakin curiga.
Saya segera mengikuti Pak Zainal ke kota berikutnya, rumah Nina tampak sendirian dan mengetuk pintu perlahan, tetapi tidak ada jawaban, jadi saya mencoba mendorong pintu, dan dia belum selesai, saya melihat siapa pun dan mencoba Perlahan masuk di kulit Pak Zainal mereka mengenal saya.
Perhatian saya segera di kamar Nina dan ada erangan. Jantungku berdetak kencang. Saya mencoba melihat melalui pintu yang terbuka. Sangat terkejut ketika saya melihat Pak Zainal dan istri Nina sudah membuka pakaian di depannya.
Karena visi saya tidak begitu jelas, saya mengambil kursi untuk membawanya ke pintu, dan mendekati meja, ada visi yang jelas. Saya tidak tahu apa yang ingin saya laporkan kejadian itu atau hanya melihatnya. Hati saya tertutup iblis, saya menutup pintu luar dan dilarang masuk ke rumah Ny. Nina dan memastikan tidak ada orang di sana.
Setelah saya meyakinkan diri saya bahwa itu aman, saya kembali ke meja. Nina dalam posisi terlentang, dengan kedua kakinya terbuka lebar dan lututnya terangkat di tangannya. Sementara Zainal Nina menjilati cola segar. "Ooouuhhhh ... oooouuuuhhhh ... lihat ... teruss teruss" Nina menghela nafas, ketika dia menggerakkan pantatnya untuk menikmati Zainals Jilatin.
Zainal mengangkat kepalanya dan mengangkat tangannya ke paha Nina. Bibir Nina menjadi keruh, bibirnya lumpuh, dia tampak merah dan segera meraih jarinya di lubang anus Zina's Zina dan langsung menuju ke Nina.
"OOOOuuhkkkk ... ssssshhhh ... lezat ... banghghhetthhh Ssshhhh ..." Dia mengerang ... Zainal Bush menjilat rektum Nina, kadang-kadang klitoris Nina adalah target jari kiri Zainal, yang tampaknya adalah Meremas rektum Nina Sedikit demi sedikit, Nina menembus alat kelamin di dubur Zainals, sementara Nina terus-menerus melewati lidah, vagina Nina dan klitoris.
Pada awalnya, ketika jari-jari Zainal menembus dubur, saya berpikir bahwa Nina akan menolak Zainal dan memarahinya, tetapi tiba-tiba saya meremas pantatnya, Nina, dan lebih menekan vagina dan anus.
"Ooohhhkkk ... gila ... ooohh ..." dia mengeluh tanpa henti. kesenangan saya tak terbendung ... lalu saya membuka celana saya dan mencari sabun di kamar mandi, tetapi saya hanya menemukan sampo ... Saya langsung membawanya ke kursi. Lanskap di dalam ruangan telah berubah.
Nah, tentang Nina Zainal, posisi 69, ada pantat lemak Nina di depan saya, termasuk Zainal, yang sibuk mengisap dan menjilati alat kelamin Nina, sementara kemaluannya masuk ke mulut Nina dan keluar, aku lemas .. yang benar-benar mengurangi darah
"Ssshhhh ... ohohhhhhhh," ulang Nina.
Kemudian Zainal berbalik dan Nina masih di atasnya, tampaknya menyodorkan alat kelamin Zainal ke dalam bayangannya ... Dia khawatir, dan ketika alat kelamin Zainal berada di tengah-tengah vagina Nina, Nina meremas berkatnya sepenuhnya di dalam dirinya. alat kelamin Alat kelamin Nina. Nina menggosok tubuhnya ke tubuh Zainal saat dia mengeluh.
Aku mengguncang penisku bahkan lebih, aku merasa sangat baik, juga tampak bahwa lubang persegi panjang Nina di bunga masing-masing Nina ditekan atau menarik pantatnya. Saya merasa bahwa saya sedang ditarik untuk memasuki lubang anal berbingkai merah.
Tangan Zainal tidak tinggal diam, tangan kiri sepertinya melawan pantat Nina, yang besar, sementara tangan kanannya mencari lubang dubur Nina. Kemudian, ketika jarinya menemukan apa yang dia cari, dia memasukkan jari telunjuknya ke makam Nina. Saya menyaksikan ketika saya melambaikan penisku dan merasa alat kelaminku mencapai rektum ... Ooooh, itu lezat.
Nina tampaknya menikmati rangsangan hebat di dua lubangnya, erangannya memburuk ketika kepalanya bergetar ke kiri dan ke kanan ketika dia mendongak dengan mulut terbuka yang terus bersiul seperti ketajaman.
Beberapa saat kemudian, Nina mempercepat gerakannya, bernafas semakin lama, saat erangannya semakin keras dan kencang.
“ooouuh…ssshhh.oooohhh…” pantatnya menyembul-nyembul dalam gerakanya yang semakin menggila, hingga suatu ketika, tubuhnya seolah tersentak, punggungnya melengkung, sementara pantatnya terlihat menekan kuat-kuat kerah kemaluan Zainal, sekujur tubuhnya menegang seolah olah sedang sekarat.
“Oooouuhhhhhhhkkkkhhhhhhhh…. akkkkkkhhhlluaaarrr" erangnya meracau sambil menggigit bibir Zainal kuat-kuat. lalu tubuhnya ambruk diatas tubuh Zainal. Nina telah mencapai orgasmenya yang pertama.
Zainal nampak tenang-tenang saja, sambil tersenyum ia bangun, dan menunggingkan Nina, dan Nina menurut saja, lalu kemaluannya diarahkan kearah kemaluan Nina, sementara tanganya merengkuh payudara Nina yang menggantung besar, dan sekali tekan blessshhh… kemaluan Zainal kembali menghantam kemaluan Nina dari belakang, kembali meraka melenguh bersamaan, Nina nampak mendongak menerima hantaman Zainal, lalu suara desahan seperti orang kepedasan keluar dari mulutnya berulang kali, rupanya Nina masih menikmati sisa kenikmatan yang tadi, Zainal semakin asik mengeluar masukan kemaluannya, hingga nampak busa-busa putih menetes dari pinggir-pinggir kemaluan Nina, mungkin sisa-sisa orgasme Nina yang tadi.
Aku semakin nikmat mengocok-ngocok kemaluanku, dan jujur saja, sebenarnya aku hampir memuncratkan maniku ketika Nina orgasme tadi, tapi aku masih penasaran,sehingga berusaha menahanya walau terasa sudah diubun-ubun. Tiba-tiba Zainal mengeluarkan kemaluannya, sementara tangan kannannya sibuk menjangkau klitoris Nina dan mengocok-ngocoknya.. nampak Zainal setengah duduk, mulutnya kemudian menjilat-jilati dubur Nina, tangan kirinya menyusupkan jarinya sedikit-sedikit ke lubang dubur Nina, dan diluar dugaanku, Nina semakin menunggingkan pantatnya,sementara mulutnya mendesis desis seperti ular.
“SSSShhhh….oooohhhkkkk….terusss…oooohhhhkkkhh…” desisnya berulang kali.
“Zainal kembali berjongkok, dan mengarahkan kemaluannya persis ke lubang dubur Nina, lalu menakannya sedikit, menariknya lagi,menakan sedikit hingga setengah kepalanya masuk, mengeluarkanya lagi, begitu seterusnya.
Efeknya luar biasa, Nina nampak nafsunya bangkit setinggi-tingginya… nafasnya benar-benar memburu, pantatnya semakin tinggi menungging.. sementara lubang duburnya nampak semakin merah dan mulai membesar kuncup mekar.. dengan nafas memburu, Zainal kembali mengarahkan kemaluanya ke lubang dubur Nina.. dan dengan sekali tekan blessshhh… masuklah kemaluan Zainal memenuhi dubur Nina.
Nina merasakan sensasi yang luar biasa diduburnya, duburnya terasa panas, penuh terganjal dan seperti mau beol, namun terasa hangat kemaluan Zainal dan nikmatnya ketika keluar masuk membuat nafsunya semakin tinggi.
“Oooohhh…terusss…terussshhh…ooohhkkk…” erangnya
Zainal tampak linglung dan bisu untuk sesaat ketika tubuhnya terbang, tubuhnya gemetar dan senang, hubungan seks genitalnya, terkandung, dikompresi oleh kulit Nina. Dinding anal Nina menutup setiap kali dia menarik dan meremas kemaluannya. Zainal membeli dan mengalami kesenangan.
Saya tidak punya kecurigaan, tidak ada lagi keengganan, penis saya tidak akan menumpahkan banyak sperma ... itu terlihat bagus setiap kali, tangan saya di kepala penis saya, seolah-olah itu adalah anal Nina, yang memutar pangkal paha saya. ruangan tempat Nina menunjukkan gerakan, dan untuk mempercepatnya dan setiap fairul mendorong dan mendorong duburnya, mulutnya bersiul.
"Ooohkkk ... sssshhhh ... oooohhhh," desisnya, dan itu benar-benar mukjizat, suatu hari matanya bersinar ketika rektum menggerakkan alat kelamin Zainal sekencang mungkin ke mulutnya menggeram seperti orang yang sekarat.
"Heuuuueuuueuhhhhkkkkhhh!" Matanya tampak bersinar dan kemudian berkedut seperti sebelumnya, rupanya Nina telah mencapai orgasme keduanya.
Zainal Zainal Zainal Zainal Zainal Zainal Setelah Zainal, Zainal merasa seolah-olah kemaluannya terjebak di dasar anal Nina, tubuhnya tegang dan gerakannya berhenti. Suatu ketika dia menikmati kontraksi pada akhirnya.
"Hooooouuuhhhkkkhhhh ... akkkhu outrr," katanya dengan suara serak, merobek air matanya di lubang anal Nina. Nina merasakan kenikmatan biji Zainal di tempatnya, dan cipratan hangat di dinding anusnya. Kontrak vagina dan dubur Nina, yang mengarah ke gerakan meraih di vaginanya dan setelah itu, Zainal mengeluh semakin banyak ... maka keduanya malas di tempat tidur.
Saya kira tubuh saya berkontraksi, dan ayam saya jatuh hati, semua darah saya, seolah-olah itu adalah ujung dari ayam saya dan disuntikkan ke dalam sejumlah besar sperma, kemudian dikontrak dan dibiarkan sangat bagus dan saya akan "Oooouuuhhh ... "
Aku memakai celanaku dengan tergesa-gesa, kursi itu meringkuk lagi sampai aku memegangnya di atas meja dan segera pergi. Saya menyeka tangan saya dari daun. Saya mengetuk pintu.
Setelah sekian lama, Nina keluar, dia terlihat sangat usang dan berkeringat, kulit putihnya tampak merah karena kelelahan.
"Maaf, Bu, saya punya kebutuhan, bisakah saya masuk?" Saya memohon padanya untuk berpura-pura tidak ingin tahu apa-apa.
"Oh ... eh ... tuan, tolong!" Dia berkata dan tampak gugup.
Kemudian saya masuk dan ketika saya duduk, saya perhatikan bahwa saya gugup.
"Gini, nyonya, jangan khawatir, aku mencari Tuan Zainal, aku pernah melihatnya di sini, bisakah kamu memanggilku Nyonya?" Saya katakan nanti
Dia tampak bingung dan gugup. "Uh ... eee ... iaya ... ehh ... ooo aada", katanya gugup.
"Ya, tidak apa-apa, tolong panggil ibu," kataku dengan tenang.
Zainal keluar sambil mendengarkan senyum, lalu mendekati saya dan berbisik:
"Maaf, saya menggunakannya, sayang," katanya dengan marah.
Saya hanya tersenyum dan berkata, "Ini tuanku, ada kebutuhan untuk MOS, tolong, lakukan sekarang, bagaimana mungkin?"
"Dia, Tuan, bisa," katanya, masih terdengar penuh kambing.
"Yah, Pak, saya sedang menunggu laporannya, jangan lupa cuci, Pak," kataku sinis. Nina tampak memerah dan mendekatiku.
"Abis, kamu tidak mau, pak, kata ayah ini, katakan padaku, ya, dia akan datang ke sini, aku menunggu, tolong tunggu
"Saya masih berbisik, hanya tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal, diikuti oleh Pak Zainal.